Primary tabs

Perpustakaan di Tengah Pandemik Covid-19

Sejak pertama kali ditemukan akhir tahun 2019 virus corona atau covid -19 merupakan pandemic terbesar selain SAR dan MERS yang terjadi dalam dua dekade terakhir. Secara umum covid 19 diduga ditularkan oleh kelelawar, yang di awali dari pasar makanan laut lokal di Wuhan Provinsi Hubei Cina Tengah. Hal ini dikaitkan dengan 80 kematian dan 33 orang terinfeksi di tanggal 26 januari 2020, dengan Gejala klinis khas dari pasien-pasien ini adalah demam, batuk kering, kesulitan bernafas (dyspnoea), sakit kepala dan pneumonia. Virus dengan tingkat penyebarannya yang sangat cepat ini menjadi momok yang menakutkan bagi manusia, ini terbukti sampai bulan Mei WHO merilis data penambahan kasus didunia sudah mencapai 4.628.903 kasus dengan kematian 312.009 yang terkonfirmasi. Sedangkan  untuk indonesia data penambahan kasus covid 19 di bulan Mei  mencapai 18.010 kasus dengan kematian 1.191 orang hal ini menandakan penyebaran masih terus terjadi di dunia bahkan di Indonesia.

Upaya pemerintah dalam memutus rantai penyebaran covid terus disosialisasikan kepada masyarakat, baik cara agar masyarakat tetap menjaga jarak (social distancing atau fisical distancing) maupun dengan Pembatasan Berskala Besar (PSBB) diberbagai provinsi dan kabupaten kota yang ada, namun langkah tersebut sampai saat ini tidak menurunkan angka penyebaran covid 19. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga jarak, menggunakan masker dalam melakukan aktifitas masih rendah ini terlihat angka penularan masih tinggi setiap harinya. Dilema inilah  yang dialami oleh pemeritah disatu sisi harus menjaga agar tidak terjadi penyebaran dimasyarakat dan disisi lain juga harus memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat ditengah dampak covid 19 yang terjadi.   

DAMPAK COVID 19 PADA PERPUSTAKAAN

Salah satu unit pada pemerintahan yang terkena dampaknya adalah perpustakaan. Perpustakaan yang selama ini banyak digunakan fasilitasnya oleh masyarakat (pemustaka) untuk mencari informasi, sejak adanya covid 19 terpaksa ditutup untuk tidak memberikan layanan. Perpustakaan di Indonesia sampai saat ini baik perpustakaan sekolah, perguruan tinggi bahkan perpustakaan umum tidak melayani kunjungan pemustaka, fisical distancing yang dihimbaukan oleh pemerintah pusat harus dilakukan, agar perpustakaan sebagai layanan masyarakat memiliki peran aktif dalam memberikan contoh langsung supaya penyebaran covid 19 tidak berkembang.

Secara umum pandemic covid 19 setidaknya memiliki 3 aspek yang dampaknya berpengaruh pada perpustakaan yaitu 1. aspek layanan: dimana aspek layanan perpustakaan  berubah yang selama ini pemustaka datang langsung tatap muka melakukan layanan peminjaman, pengembalian maupun perpanjangan koleksi, saat ini harus berubah dengan koleksi digital yang dapat diakses menggunakan jaringan internet. 2. Aspek anggaran dan kegiatan: anggaran pada perpustakaan juga terkena dampaknya dimana anggaran yang sudah direncanakan untuk kegiatan perpustakaan, harus dilakukan perubahan dan pemusatan kembali (refocusing) untuk pencegahan covid 19. Kegiatan yang biasa dilakukan offline seperti seminar dan workhop juga beralih kedalam jaringan (daring). dan yang ke 3 aspek pustakawan: pustakawan yang setiap hari berinteraksi dengan pengguna dalam mencari dan menemukan informasi yang ada, kini beralih dengan memanfaatkan internet sebagai media interaksi dengan pengguna. ketiga aspek ini saling terkait satu sama lain dan sangat penting bagi perpustakaan ditengah pandemic covid 19 yang terjadi saat ini.

 Pustakawan sebagai motor penggerak perpustakaan memiliki peran ditengah pandemic covid 19, dibeberapa daerah pustakawan dikerahkan dalam mendata orang terdampak covid 19 bahkan pustakawan juga dikerahkan dalam mensosialisasikan mengenai virus corona, cara penyebarannya, cara pencegahannya dan cara penangulanganya kepada masyarakat. pustakawan juga dituntut dapat memberikan informasi yang dibutuhkan pemustaka, disinilah pustakawan diuji apakah pustakawan mampu menyediakan informasi yang efektif, efesien dan etis bagi pemustaka ditengah pandemic covid 19. Penulis melihat ada 2 perpustakaan yang paling siap menghadapi kondisi semacam ini yaitu perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan nasional. Walaupun perpustakaan tersebut tidak melayani kunjungan pemustaka tetapi ke dua perpustakaan memiliki koleksi digital yang dapat diakes melalui jaringan internet. sebagai contoh perpustakaan nasional memiliki iPusnas, iPusnas merupakan aplikasi perpustakaan digital dimana pemustaka dapat mengakses, melakukan peminjaman, pengembalian ebook tanpa harus datang ke perpustakaan nasional.

Akses koleksi digital baik ebook, ejurnal, majalah maupun surat kabar inilah yang sangat diharapkan bagi pemustaka disaat ini. Pemustaka menginginkan informasi yang dapat diakses dengan genggaman dan dapat dimanfaatkan kapan saja dan dimana saja. Pandemic covid 19 ini menjadi pelajaran bagi perpustakaan agar kedepannya perpustakaan menyediakan koleksi digital yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh pemustaka. Semoga pandemic tidak menjadi penghalang perpustakaan dan pustakawan berinovasi menciptakan hal baru yang berguna bagi pemustaka dalam mencari informasi.  

 

 

Daftar Pustaka

Yuliana, (2020). Corona virus diseases (Covid-19); sebuah tinjauan literature. Wellness and Healthy Magazine, Vol.2 Nomor 1.  p.187-192.

Penulis: 
Janfrist Pagendo Purba
Sumber: 
Pustakawan Universitas Negeri Bangka Belitung

Artikel

31/12/2024 | Darma, S.I.Pust, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
30/12/2024 | Darma, S.I.Pust, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
29/12/2023 | DKPUS Prov. Kep. Babel
21/12/2023 | DKPUS Prov. Kep. Babel
13/12/2023 | DKPUS Prov. Kep. Babel
05/04/2019 | Runi Alcitra amalia
61,926 kali dilihat
05/12/2022 | Riyad, Pustakawan DKPUS Prov. Kep. Babel
32,122 kali dilihat
03/10/2019 | Runi Alcitra Amalia
21,386 kali dilihat

ArtikelPer Kategori