Kemampuan berliterasi menjadi salah satu capaian pembelajaran dalam kurikulum merdeka, bahkan sejak di jejang satuan pendidikan anak usia dini (PAUD/Sederajat). Kemampuan berliterasi tidak hanya sebatas dengan kemampuan membaca dan menulis saja, namun, terdapat 6 (enam) kemampuan literasi dasar yang harus di capai peserta didik dalam kurikulum merdeka. Salah satunya adalah kemampuan dalam literasi sains.
Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016). National Research Council (2012) menyatakan bahwa rangkaian kompetensi ilmiah yang dibutuhkan pada literasi sains mencerminkan pandangan bahwa sains adalah ansambel dari praktik sosial dan epistemik yang umum pada semua ilmu pengetahuan, yang membingkai semua kompetensi sebagai tindakan.
Literasi sains merupakan bagian dari sains, bersifat praktis, berkaitan dengan isu-isu tentang sains dan ide-ide sains. Warga negara harus memiliki kepekaan terhadap kesehatan, sumber daya alam, kualitas lingkungan, dan bencana alam dalam konteks personal, lokal, nasional, dan global. Dari sini kita bisa melihat bahwa cakupan literasi sains sangat luas, tidak hanya dalam mata pelajaran sains, tetapi juga beririsan dengan literasi lainnya.
Segala bentuk kejadian nyata yang bisa dilihat secara langsung dan kemudian terjadi hal serupa di daerah lain, kota lain, bahkan negara lain di seluruh dunia. Maka sudah termasuk ke dalam contoh fenomena
Menurut wikipedia, Fenomena alam adalah peristiwa non-artifisial dalam pandangan fisika, dan kemudian tak diciptakan oleh manusia, meskipun dapat memengaruhi manusia (mis. bakteri, penuaan, bencana alam). Contoh umum dari fenomena alam termasuk letusan gunung berapi, cuaca, dan pembusukan.
Sedangkan pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menjelaskan bahwa fenomena sosial adalah kejadian nyata yang dapat dilihat secara langsung melalui panca indra dan dapat dijelaskan dalam penelitian bersifat ilmiah.
Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya akan menjumpai banyak fenomena sosial atau kejadian-kejadian yang berkesan dan berpengaruh besar sedang terjadi. Fenomena dalam kehidupan sosial bisa dalam bentuk hal-hal atau kejadian yang positif bisa juga negatif.
Munculnya fenomena ini sendiri dipicu oleh banyak faktor, yang kemudian bentuknya semakin kompleks dan memberi pengaruh yang cukup besar. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan fenomena sosial? Lalu, seperti apa contoh dari fenomena sosial yang ada di sekitar kita?
Selain itu, literasi sains juga mencakup tentang kecakapan dan pengetahuan dalam mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah supaya dapat mencapai kehidupan yang lebih nyaman, sehat dan lebih baik. Dikutip dari laman gln.kemendikbud.go.id, literasi sains sangat penting karena bertujuan untuk menumbuhkan pemikiran yang kritis, kecakapan dalam menyelesaikan masalah dengan kreatif.
Selain itu juga menumbuhkan sikap bekerja sama dengan orang lain sesuai dengan asas kebersamaan, serta membantu berkomunikasi dengan lebih baik. literasi sains juga membuat kita mampu memilih informasi ilmiah yang tepat, memahami gambar, bagan dan tabel pada informasi ilmiah. Serta menilai kebenaran sebuah temuan dari informasi ilmiah, apakah informasi ini berdasarkan data dapat dipertanggungjawabkan? Atau apakah informasi ini disimpulkan dari penilitian yang dapat dipercaya? Dalam praktiknya, literasi sains juga perlu ditumbuhkan bersamaan dengan sikap-sikap ilmiah yang diantaranya; menumbuhkan rasa ingin tahu, berfikir kreatif selalu, berani mencoba apabila gagal, dan tidak berhenti untuk belajar.
- 13217 reads
