Keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses terbentuk masyarakat yang cerdas. Perpustakaan mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena perpustakaan bertugas mengumpulkan mengelola dan menyediakan rekaman pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari.
Dengan perpustakaan akan tertolonglah masyarakat ekonomi lemah dalam mengakses informasi yang mereka perlukan. Dalam kasus ini perpustakaan dapat dikatakan menjadi sarana mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaan perpustakaan juga merupakan penghayatan falsafah negara kita yaitu Pancasila (Sudarsono, 2006).
Guna menggambarkan perpustakaan sebagai sesuatu yang mempunyai peran penting di masyarakat atau bangsa, maka perpustakaan mendapatkan sebutan yang baik dan dapat dikatakan mempunyai makna yang tinggi, antara lain; perpustakaan gudangnya ilmu dan informasi, perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi, perpustakaan membangun kecerdasan bangsa, perpustakaan sebagai terminal informasi, perpustakaan membuka cakrawala pengetahuan dunia dan lain sebagainya.
Namun secara realita, masyarakat dalam memanfaatkan perpustakaan masih sangat rendah, baik itu di perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah atau perpustakaan khusus lainnya. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya apresiasi, kunjungan dan pemanfaatan fasilitas koleksi yang ada di perpustakaan.
Masyarakat yang memiliki literasi informasi adalah masyarakat yang telah mengerti, menyadari, memahami, dan menggunakan tulisan (bacaan dan sumber informasi). Dengan kata lain, selain mempunyai budaya lisan/tutur yang telah dibawa sejak turun-temurun, ratusan bahkan ribuan tahun. Mereka telah mengembangkan budaya baca dan tulis (Sutarno NS, 2006). Masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi harus terus diimbangi dengan penyediaan fasilitas seperti perpustakaan dan bahan bacaan yang memadai sesuai kebutuhan masyarakat (Priyanto, 2007). Hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadi pemburu informasi dan ”melek informasi” dalam memenuhi kebutuhannya.
Tantangan terbesar bagi perpustakaan adalah merubah paradigma perpustakaan menjadi tempat belajar yang menarik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masa kini. Perpustakaan agar lebih maju, lebih menarik dan memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu; peningkatan fasilitas, materi pembelajaran, dan kapasitas layanan. Masyarakat literasi, merupakan pendukung efektif bagi berkembangnya budaya belajar. Perpustakaan yang baik seharusnya bisa berfungsi sebagai pusat pembelajaran, bahkan bisa juga berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change) bagi masyarakatnya. Keberadaan perpustakaan sangat diharapkan untuk dapat berperan sebagai agen pengembangan modernisasi masyarakat (Kartosedono, 1995). Kondisi semacam itu hanya bisa ditemui dalam masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi. Keberadaan perpustakaan tidak akan berpengaruh dalam masyarakat yang memiliki budaya baca rendah.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangun literasi masyarakat pada perpustakaan. Satu diantara cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan pemakai. Menurut Hak (2008) mengutip Maskuri (1995) pendidikan pemakai atau seringkali disebut user education adalah suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.
Pemanfaat perpustakaan oleh masyarakat saat ini masih rendah, yaitu ditandai dengan sedikitnya jumlah pengunjung perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi. Salah satu faktor sedikitnya jumlah pengunjung dalam memanfaatkan informasi adalah literasi informasi masayarkat dalam menggunakan perpustakaan. Literasi informasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi dan juga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.
Oleh karena salah satu cara yang digunakan untuk membangun literai informasi di perpustakaan dengan pendidikan pemakai. Pendidikan pemakai suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.
Dalam hal ini bentuk pendidikan pemakai yang digunakan melalui orientasi perpustakaan, yaitu pendidikan jangka pendek dalam upaya membangun pengetahun pengguna dalam menggunakan perpustakaan. Dengan muatan materinya antar lain untuk mengetahui perpustakaan dan sistem pelayanan perpustakaan, dan cara menggunakan fasilitas di perpustakaan. Sehingga dengan pendidikan pemakai ini literasi masyarakat penggunan akan baik dan familier dalam memanfaatkan informasi diperpustakaan.
Informasi merupakan sebuah entitas yang berpotensi untuk menjadi sebuah kekuatan sekaligus sumber kebingungan bagi banyak orang. Setiap hari kita ditantang untuk berhadapan dengan informasi yang melimpah ruah dan melaju dengan kencang, dalam berbagai format yang terhitung pula jumlahnya. Keterampilan dasar dalm melek informasi yang tidak lain adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dari berbagai sumber secaraefektif, menjadi sebuah keahlian yang teramat penting dan harus dikuasai oleh semua pihak baik pustakawan maupun pengguna. Setiap orang dalam menjalani kehidupannya pasti dihadapkan pada berbagai macam permasalahan dan pilihan yang terkadang membingungkan. Selanjutnya letak perbedaannya adalah seberapa besar masalah tersebut dan bagaimana seseorang menyikapinya. Misalnya: seseorang yang sedang membutuhkan berbagai referensi pada saat akan memulai usaha wiraswasta beternak lobster, siswa yang bingung mau melanjutkan studi kemana, pustakawan yang mau memulai menulis tapi kurang literatur, mahasiswa yang kesulitan mencari bahan untuk menyelesaikan tugas, ibu-ibu yang ragu antara memilih tempat belanja barang yang dirasa murah dan berbagai masalah lainnya yang biasa kita hadapi sehari-hari. Oleh karena itu tulisan singkat ini kami tulis dengan maksud agar kita menyadari betapa pentingnya ’literasi informasi’ agar permasalahan tersebut semuanya dapat kita selesaikan dan kita putuskan penyelesaiannya secara bijak.
Selanjutnya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan tersebut, solusi yang tepat adalah segera akses ke perpustakaan merupakan alternatif sebagai sarana mendukung literasi informasi tersebut. Padahal seseorang yang datang ke perpustakaan juga dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang beraneka macam bentuk dan kemasannya. Selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana kita dituntut untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat dengan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, sehingga dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. Semakin kita bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang menimpa kita dengan mengambil keputusan yang tepat, maka semakin menunjukkan tingkat kemandirian dan kedewasaan kita. Selain itu keputusan yang kita ambil akan menjadi baik tergantung pada bagaimana informasi itu bisa kita peroleh secara tepat.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah literasi informasi (information literacy). Literasi informasi dapat diistilahkan juga dengan istilah ’melek informasi’ maupun ’keberaksaraan informasi’. Bahkan di berbagai pertemuan/forum ilmiah juga sering didiskusikan mengenai literasi informasi ini. Oleh karena itu, dalam rangka menanggapi kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan kompleks serta untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat informasi, maka kita memerlukan adanya literasi informasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup (lifelong learning). Akibat dari terus berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, maka dalam waktu 24 jam sejak kita bangun pagi sampai tidur malam hari jutaan informasi telah menyebar kemana-mana. Apalagi saat ini di perpustakaan sebagai sarana pendukung literasi informasi, ada banyak sekali sumber media yang bisa kita akses. Misalnya: perpustakaan selain menyediakan media cetak yang berupa buku, jurnal, majalah, surat kabar, juga menyediakan media noncetak seperti radio, televisi, internet maupun berbagai jenis bentuk multimedia lainnya.
Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Maksudnya bahwa literasi informasi tidak akan sempurna tanpa kehadiran perpustakaan yang memadai. Namun pernahkah kita sadari bahwa keberadaan perpustakaan yang menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu ternyata membawa dampak yang sangat positif dan sangat membantu literasi informasi bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
- 184 reads
